Bismillah,
Semoga Allah senantiasa memberikan pertolonganNya kepada
kita,
Kegundahan seorang muallaf muslimah shalihah "Saat aku
membaca kalam-Mu, seketika itu aku percaya dan aku taat karna aku yakin itu
ucapanMu langsung kepada diriku, hambaMu. Saat aku membaca dan belajar hadist
Rasul Mu, Nabi Muhammad SAW, aku percaya dan taat menyegerakan hijrahku karna
aku tak tahu sampai kapan batas usiaku, tetapi kenapa saat aku memanjangkan
kerudungku (sebagaimana kau jelaskan dalam al-quran surat an-Nur ayat 31:
وَقُلْ
لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ
فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ
إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka
menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya; janganlah mereka menampakkan
perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak padanya. Wajib atas mereka menutupkan
kain kerudung ke dadanya. (QS an-Nur [24]: 31).)
mereka yang telah mendapat cahaya islam sejak lahir,
memperolokku? Mengapa setiap diri ini mulai menempatkan agamaMu dalam sanubari
secara kaaffah mereka meragukanku? Adakah aku melakukan kesalahan? Ataukah aku
munafik Ya Allah?
=====================================================================
Malu diri ini mendengar ucapan beliau, betapapun masa
seseorang berada dalam cahaya islam tidak mampu menentukan sedalam apa keimanan
seseorang. Betapapun lama seseorang berada dalam lingkungan pendidikan islam,
tidak dapat menjadi acuan dalam kejernihan hati seseorang dalam menerima setiap
perintahNya.
Sajak indah, sarat makna yangdikutip dari buku karangan
Salim A. Fillah "Agar Bidadari Cemburu Padamu" pada bab "Allah
Sayang Padaku"
Di lautan nikmat
Dua makhluq berpisah
Yang satu tenggelam, yang lain menyelam
Kau tahu apa bedanya?
"Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan
meniupkan ke dalam jasad itu sebagian dari ruh-Nya. Dan Dia menjadikan bagi
kalian pendengaran, penglihatan, dan hati... sedikit sekali kalian
mensyukuri." (As Sajdah 9)
Lalu apa? Apa yang sudah kita syukuri? Ataukah kita lebih
banyak berbuat kufur? na'uudzubillahimin dzaalik. Kadang kita lupa,
pendengaran, penglihatan, seluruh yang Allah karuniakan kelak dimintai
pertanggung jawabannya. Siapkah kita bertanggung jawab atasnya?
Astagfirullaah, terkadang saya sendiri merasa belum pantas
menuliskan tulisa hikmah. Begitu Maha Besar Allah, Maha Suci Allah yang telah
menutupi semuaa aib penulis.
Sebagai bahan renungan sahabat shalihah semua, semoga
tulisan ini bermanfaat. Besitkan dalam hati ketika kita mulai berhijrah ;
"KARENA ALLAH SWT MENYURUHKU"
SEMOGA ISTIQAMAH
AAMIIN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar